Sabtu, Juni 21, 2008

ensiklopedia obat (lanjutan)

Flukonazol : salahsatu golongan obat anti jamur.

Digunakan untuk pengobatan jamur baik infeksi lokal pada kulit maupun pada infeksi sistemik (infeksi yang meluas lewat peredaran darah).
Efektif pada penggunaan jangka panjang > 2 minggu.
Efek samping dari pemakaian Flukonazol tablet (diminum, pemakaian oral) dapat berupa mual, nyeri perut, diare, ruam/ rash pada kulit.

Guaiafenesin (sering disebut GG)
salahsatu bahan yang sering terdapat dalam campuran obat batuk atau obat flu.
Sifatnya sebagai expectoran atau mengeluarkan dahak, lebih efektif jika ditambah pemakaian Bromhexin (hati-hati pemakaian expectoran Bromheksin pada penderita Gastritis atau sakit maag )

Hiosina-butil-bromida
bahan ini umumnya terdapat pada obat-obatan untuk nyeri haid, nyeri/kram perut, dan gangguan perut lainnya yang membutuhkan relaksasi otot polos pada usus, seperti pada kasus mencret yang kronis.
Hati-hati penggunaan obat yang mengandung bahan ini pada penderita glaukoma, hipertrofi/ pembesaran kelenjar prostat yang sering susah kencing, penderita gangguan fungsi hati, dan anak kecil / bayi dengan megakolon (usus yang membesar karena kelainan bawaan).

Ibuprofen
Banyak iklan di media tentang penggunaan Ibuprofen sebagai obat penurun panas (=antipiretik) juga mempunyai mengurangi nyeri (=analgesik).
Harus diminum sesudah makan (saat lambung tidak kosong) karena dapat mengakibatkan gangguan lambung atau nyeri maag.
Sering diresepkan untuk pengobatan rhematoid dan osteoarthritis karena sifat anti-inflamasinya.


Kloramfenikol (=Chloramphenicol)
golongan antibiotik yang kerap digunakan untuk pengobatan infeksi Typhus / Typhoid, infeksi saluran pencernaan atau juga pada infeksi saluran nafas atas.
Efek samping penggunaan Kloramfenikol dapat berupa mual, anemia, dan Grey baby syndrome ( pada bayi baru lahir yang mendapat terapi Kloramfenikol dosis berlebihan)


Read More......

Jumat, Juni 20, 2008

Tadi siang ada seorang pasien yang meng-sms saya menanyakan merk suatu obat isinya apa.
Saya lihat di MIMS dan ISO (buku tentang obat-obatan) tapi ternyata tidak ada, mungkin versi ISO saya tidak up to date atau dia salah sms merk obat.
Untuk diketahui dari satu macam jenis obat saja (generik) bisa ada beberapa macam merk dagang, contohnya Parasetamol (obat penurun panas atau penghilang nyeri) bisa diperdagangkan dengan merk Bodrex, Panadol, Paramex etc. -ini bukan promosi obat loh-

Berikut adalah beberapa jenis obat (untuk edukasi) - tapi mohon jangan disalahgunakan dan jangan bikin gamau ke praktek dokter ya...

Acetaminophen : nama lain dari Parasetamol, golongan obat anti analgesik (anti nyeri) dan anti piretik (penurun demam) yang umum terdapat di obat flu.
Aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil dan penderita sakit lambung yang umumnya sensitif terhadap penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid lainnya.
Beberapa efek samping (jarang ditemukan) pada penggunaan Acetaminophen adalah bercak kemerahan pada kulit (skin rash) dan gejala alergi minor lainnya.

Betametason: (baca juga Kortikosteroid) :
Obat anti radang/ anti inflamasi yang berasal dari golongan kortikosteroid.
Biasanya digunakan untuk obat asma (pada semprotan), obat anti alergi (bentuk salep kulit) atau pada penyakit sistem kekebalan tubuh.


Cimetidine : (dibaca Simetidin)

Diuretik : golongan obat-obatan yang sifatnya meningkatkan produksi air kencing, digunakan sebagai terapi pada penderita tekanan darah tinggi.
Golongan obat diuretik yang umum diresepkan contohnya HCT (hydrochlorothiazide) dan Spironolakton.
Efek samping dari penggunaan jangka panjang bisa berupa hipokalemi (kadar kalium rendah dalam darah), dan hiperurisemia (kadar asam urat meningkat dalam darah) Penggunaan diuretik harus dihindari pada pasien tekanan darah tinggi disertai kencing manis (diabetes) atau pada penderita kolesterol.

Efedrin (juga Pseudoefedrin) : golongan obat adrenergic agonis, umumnya dipakai dalam campuran obat flu sebagai nasal dekongestan (mencegah hidung mampet, bikin nafas plong). Sifatnya bronkodilator (melebarkan saluran nafas=bronkus) juga dipakai sebagai obat pencegah asma.
Semakin jarang penggunaannya karena meningkatkan tekanan darah.

Okay... segini dulu nanti besok diteruskan lagi :)

Read More......

Kamis, Juni 19, 2008

Merokok kurangi kecerdasan

Para perokok terutama yang usia dewasa muda, cenderung memiliki kelemahan dalam hal ingatan dan kecerdasan dibanding mereka yang tidak merokok. Ini berdasarkan penelitian di Prancis ( Institut Kesehatan Nasional dan Penelitian Medis, Villejiuf ) dari data 5,000 perokok warga Inggris, ditemukan bahwa

mereka yang merokok lebih rendah tingkat ingatan, bernalar, kosakata, dan kecakapan verbalnya dibanding mereka yang tidak merokok.
Dibanding mereka yang tidak merokok, para non smoker juga memiliki kebiasaan hidup yang lebih sehat, seperti tidak mengkonsumsi alkohol, aktif secara fisik, makan banyak buah dan sayur, dll.


[ sumber: harian Pikiran Rakyat tgl 19 Juni 2008 ]



Selain itu, non smoker juga lebih disukai cewe karena lebih wangi, dan gak cepet cape / ngos-ngosan kalo maen bola. . . . *halah*

Read More......

Minggu, Juni 15, 2008

Pro dan Kontra Pengobatan Alternatif

Saat ini banyak media cetak maupun televisi menayangkan banyak pengobatan alternatif untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari darah tinggi/hipertensi, kencing manis, lemah syahwat, patah tulang, tumor/kanker, dan lain sebagainya tanpa operasi atau tanpa harus mengkonsumsi obat-obatan.
Amankah pengobatan demikian ?
Apakah pengobatan seperti itu manjur dan lebih murah,tidak repot sehingga menyebabkan banyak orang mencari pertolongan medis ke pengobatan alternatif daripada berobat ke dokter atau Rumah Sakit ?

Di saat dunia kedokteran di Indonesia sendiri saat ini sedang hangat dibahas tentang Undang-Undang / Peraturan Menkes baru tentang Tenaga Dokter, yang pada dasarnya dibuat untuk melindungi kepentingan pasien supaya mendapat standar pengobatan/ terapi yang layak, jenis pengobatan alternatif malah semakin 'menjamur'.
Padahal pengobatan alternatif tidak mempunyai standar yang jelas, atau bahkan tidak ada 'perlindungan' terhadap pasien.


Perlu dibedakan antara pengobatan alternatif yang sifatnya ber-orientasi dunia kedokteran timur seperti akupunktur / tusuk jarum, dan pengobatan alternatif yang sifatnya tidak masuk akal, seperti meminum ramuan tertentu yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu singkat.

Jika ada kesaksian / testimonial dari seorang pasien yang sembuh dengan pengobatan seperti itu, perlu dikonfirmasi lagi, penyakit apa yang sebelumnya diderita, dan apakah disembuhkan oleh pengobatan tersebut atau memang sifatnya self-limiting disease.

Berikut tulisan dari dokter Handrawan Nadesul yang telah dimuat di koran Kompas :

Seorang mantan pejabat cangkok ginjal gara-gara tiap hari minum obat encok China. Tak tahu obat yang dibeli tak berizin dan merusak ginjal. Kasus begini tak perlu terjadi kalau masyarakat tahu bahaya minum obat sembarangan.
Stasiun TV kita menyiarkan aneka penyembuhan tak jelas dasar mediknya. Praktik pengobatan tanpa bukti ilmiah menjamur di mana-mana. Iklan koran dipenuhi oleh janji penyembuh dan bahan berkhasiat yang tak masuk akal medik. Dikepung informasi medik menyesatkan, masyarakat teperdaya karena tak ada yang memberi tahu itu keliru.
Dunia medik bukan tak terbuka bagi cara penyembuhan lain. Kita mengenal complementary alternative medicine (CAM). CAM di negara maju amat berkembang. Cara penyembuhan (healing) maupun pengobatan (theurapeutic) nonmedik bukan tergolong terapi standar medik bisa diterima akal medik, kini menjadi pelengkap terapi. Sebut saja akupunktur, homeopathy, chiropractic, dan sejenis itu lainnya.
Namun, masyarakat perlu diberi tahu juga tidak setiap cara nonmedik apa saja boleh dipercaya. Informasi bahan berkhasiat atau cara penyembuhan nonmedik tentu bohongnya jika mengaku mampu menyembuhkan segala penyakit. Kalau yang sesat seperti itu tak diberi tahu, masyarakat terus percaya, lalu teperdaya.
Kini tak sedikit informasi medik tergolong hoax, sekadar pseudoscience, atau yang tak punya bukti ilmiah, beredar luas di website, berpotensi mengecoh pasien. Yang sudah jelas bahan obatnya sekalipun masih perlu disangsikan jika belum lulus teruji. Harus dianggap berlebihan klaim yang menyebut penyakit apa saja bisa dilawan dengan Ginkgo biloba, bawang putih, atau omega-3, misalnya.
Kalau iklan penyembuhan nonmedik apa saja disiarkan TV dan koran tanpa disensor, masyarakat terus saja teperdaya.
Keliru pula iklan yang menyebut karena bahan dari alam, pasti aman.
Tahun-tahun belakangan sejumlah bahan berkhasiat, jamu, fitofarmaka (Mahuang, Ephedra, misalnya) ditarik WHO sebab terbukti tidak aman.
Bertahun-tahun pasien kita terus minum jamu nakal dicampur obat dokter (antara lain obat golongan kortikosteroid) , tak menginsafi karena tak ada yang memberi tahu kelak berakibat keropos tulang, kena kencing manis, darah tinggi, selain gangguan hormonal.

Efek plasebo
Tak ada pula yang memberi tahu masyarakat bahwa sembuh dan sembuh bisa berarti dua. Dalam kesembuhan nonmedik bisa berlaku efek plasebo. Segelas air putih bisa menjadi obat kalau pasien percaya siapa yang memberi. Pasien "merasa" sembuh saja belum berarti sudah sembuh. Kesembuhan sejati perlu pembuktian medik.
Maka, apa saja yang menyebut diri obat, masyarakat perlu dibuat jangan lekas percaya. Belum tergolong sembuh medik jika cara atau bahan berkhasiat yang sama tidak menyembuhkan semua pasien berpenyakit sama. Percaya saja hanya karena ada yang bisa disembuhkan, itu yang acap menyesatkan.
Bukan saja iming-iming non- medik, ketika industri medik sendiri makin merangsek masuk, pihak pasien berisiko dirugikan. Kondisi industrio-medical complex kini memosisikan pasien kita menjadi teperdaya.
Akibat masuknya industri ke layanan medik yang mestinya sarat moral, semakin mengokohkan otonomi medik, duplikasi pemeriksaan, polifarmasi (meresepkan obat berlebihan), dan overutilisasi alat medik, sebagai bagian industri rumah sakit. Layanan medik mengalami dehumanisasi, depersonalisasi, selain ongkos berobat tinggi.
Lalu, pilihan berobat nonmedik jadi masuk akal karena secara kultur pasien kita lebih akrab pada yang serba magis dan mistis. Dikepung dua layanan yang sama tidak menguntungkan pihak pasien, pasien kita terjepit.
Sementara tangan pemerintah kelewat pendek untuk mengontrol segala yang merugikan pasien.
Maka, tak ada cara tepat untuk menolong pasien selain dengan membuat masyarakat lebih cerdas dalam berobat.
Saatnya pemerintah, media massa, dan LSM ikut menambah wawasan hidup sehat masyarakat luas dan bukannya menumbuhkan pembodohan.

Semoga masyarakat kita boleh semakin pintar dan kritis dalam menilai suatu pengobatan....

Read More......

Selasa, Juni 10, 2008

Pemakaian Antibiotik yang tidak Rasional

Teman saya sakit batuk selama beberapa hari, lalu saya tanya ;

" Udah minum obat apa ? Udah ke dokter ? "
" Obat batuk sama antibiotik. Beli aja sendiri ke apotik. "

Memang masyarakat kita ini sudah terbiasa kalau sakit dikit pengen pake antibiotik ( supaya cepet sembuhnya, beli sendiri lagi bukan pakai resep dokter).
Minum antibiotik tanpa aturan yang jelas, selain tidak tepat guna (efektif) juga bisa menyebabkan kuman penyakit / bakteri menjadi kebal terhadap obat antibiotik golongan tertentu. Juga bila suatu saat bila tubuh kita memang memerlukan pengobatan antibiotik, harus dikeluarkan biaya yang lebih mahal untuk membeli antibiotik dari golongan yang lebih ampuh.

Contohnya adalah begini, kita sebut saja suatu merk generik obat antibiotik yang paling jadi favorit masyarakat : Amoksisilin.

Amoksisilin (Amox) umumnya diresepkan dokter bila terjadi infeksi pada saluran pernafasan atas ( batuk, pilek, disertai demam, ada nyeri tenggorokan, faring hiperemis dsb ) karena infeksi saluran pernafasan atas sering disebabkan oleh kuman / bakteri Streptococcus sp. yang memang sensitif terhadap antibiotik semacam Amox.
Sayangnya penggunaan Amox secara sembarangan, contoh pada indikasi yang tidak tepat seperti sakit flu biasa / common cold akan merugikan tubuh karena tubuh harus memetabolisir obat tersebut atau bahkan menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Lalu bila suatu saat memang benar tubuh memerlukan Amox untuk pengobatan, bakteri Streptococcus sp. tersebut bisa menjadi kebal (disebut resisten) sehingga perlu ditambah / diganti dengan antibiotik golongan lain yang lebih kuat efeknya, atau berbeda cara kerjanya, dan tentu saja lebih mahal.

Pemakaian antibiotik yang benar adalah sebagai berikut :
1. Harus dengan resep dokter, supaya sesuai dengan indikasi.
Tidak semua penyakit memerlukan antibiotik, bila disebabkan oleh jamur tentu obatnya bukan antibiotik melainkan anti jamur (fungisida).
2. Diminum sesuai aturan.
Bila dianjurkan 3 kali sehari, berarti beri selang 5-6 jam untuk setiap waktu pemakaian, agar kadar obat yang terciptak di darah efektif untuk melawan bakteri.
3. Perhatikan apakah antibiotik diminum sesudah atau sebelum makan.
Ini penting untuk mengoptimalkan kerja obat, juga untuk mencegah efek samping seperti nyeri lambung.
4. Selalu habiskan antibiotik sesuai yang diresepkan.
Bila dokter meresepkan untuk 5 hari, habiskan semua antibiotik sesuai anjuran.
Kadang pasien merasa bila sudah 2-3 hari minum antibiotik badan sudah terasa enak, lalu menghentikan sendiri pemakaian.
Ini juga dapat menyebabkan bakteri / kuman menjadi kebal terhadap antibiotik.
5. Hentikan pemakaian antibiotik bila terdapat tanda-tanda alergi obat.
Segera hentikan pemakaian antibiotik jika terdapat reaksi kemerahan pada kulit (skin rash), gatal/melepuh, badan terasa panas/demam atau reaksi lain yang tidak sewajarnya.
Laporkan ke dokter supaya dicatat dalam riwayat pemakaian obat.
Bila anda alergi terhadap suatu golongan obat, kemungkinan seumur hidup anda tidak dapat mengkonsumsi obat golongan itu.


Read More......

Senin, Juni 02, 2008

Drug User and Broken Hearted

Ini dua hal yang berkaitan lagi.

Pertama penggunaan obat-obatan terlarang atau NAPZA sangat berkaitan dengan mood seseorang. Jarang seorang pengguna narkoba terpicu ingin "memakai barang" kalau mood-nya bagus. Sebaliknya gangguan mood, banyak masalah emosional, patah hati atau masalah pribadi lainnya bisa mengakibatkan tingginya pemakaian NAPZA.

Dari pemakaian yang sesekali ( occasional user ) sebagai terapi untuk memperbaiki mood / suasana hati, sehingga menjadi kecanduan ( addicted user ) dimana situasi tersebut biasanya semakin memperparah masalah pribadi yang sudah miliki ( superimposed on underlying problem ).

Sama seperti rokok atau alkohol yang digunakan orang sesekali karena memiliki pengaruh "menenangkan" atau "melupakan masalah" sehingga menjadi masalah utama kecanduan nikotin dan overdosis alkohol karena kadar penggunaanya yang meningkat dan pemakaian terus menerus dalam jangka waktu lama.
Banyak pemakai NAPZA dalam tahap adiksi / ketergantungan mengakui memiliki keinginan untuk berhenti / clean dari pemakaian obat, tapi situasi / stress emosional / lingkungan yang kondusif untuk akses NAPZA, menyulitkan para pemakai untuk berhenti total.

Sebagai tindakan preventif, sebelum masuk ke tahap adiksi, seseorang dengan penggunaan NAPZA untuk menanggulangi masalah pribadi / gangguan mood memang sebaiknya mendapat konselling untuk masalahnya tersebut.
Karena meng-intervensi pada tahap adiksi lebih sulit dan kompleks , melibatkan lingkungan sosial ( pergaulan bandar-pemakai ) dan akses terhadap obat-obatan.
Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati ?

Bacaan lain yang berkaitan HIV dan AIDS | Morphine and Opioid Drugs | Natural Sleep Aid | Stop Smoking | Ten Ways to Get Rid of Broken Hearted without using Drugs

Read More......