Sabtu, September 22, 2012

Hampir saja tak tertolong :: Kasus near miss maternal


Hari ini, adalah hari yang bersejarah bagi pasangan Ny. F dan Tn. M

Karena hari ini adalah lahirnya bayi kembar mereka, berat 2300 gram dan 1900 gram.

Peristiwa kelahiran kedua bayi mereka dimulai dengan kejangnya Ny. F saat kehamilannya mencapai usia kehamilan cukup bulan.
Tn. M yang panik, langsung membawa istrinya ke bidan praktek terdekat (tanpa membawa apapun, hanya baju yang melekat)

Bidan praktek yang saat itu sedang menangani persalinan, langsung meninggalkan pasiennya, dan mengantar Ny. F dan suaminya Tn. M ke Puskesmas terdekat.

Di Puskesmas itu, dalam waktu 30 menit, perawat, bidan dan petugas kesehatan yang bertugas langsung memberikan penanganan.
Obat anti kejang diberikan dan stabilisasi dilakukan sebelum melakukan perujukan dengan ambulans ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Tim RSUD sudah mengetahui bahwa ada pasien hamil yang kejang sedang diberangkatkan ke tempat mereka bertugas.
Beberapa menit sebelum pasien sampai, bagian unit gawat darurat, kamar bersalin dan kamar operasi sudah mengetahui bahwa pasien ini membutuhkan operasi segera.

Pasien kejang dalam kehamilan membutuhkan tindakan operasi sesar segera untuk menyelamatkan janin dan juga nyawanya sendiri.

Saat ini, kabar terbaru adalah pasien sudah pulih kesadarannya setelah operasi - dan memasuki ruang perawatan ibu.

Ini bukan cerita rekaan, karena saya ada sendiri pada saat peristiwa ini terjadi.

Siang itu saya memang sedang berada di Puskesmas tempat kejadian perkara, dengan agenda kunjungan bertemu dengan kepala Puskesmas dan bidan koordinator.
Tidak lama setelah kami membicarakan agenda acara klinis untuk bulan mendatang, pasien Ny. F ini datang bersama suaminya.

Ini kehamilan yang pertama,
kata Tn. M yang baru berusia 18 tahun (!!!)

Ny. F yang juga berusia 18 tahun, datang dengan kejang, yang sebelumnya tidak pernah dialami saat kontrol kehamilan di Rumah Sakit terdekat.

Setelah pemberian dosis awal obat antikejang (Magnesium Sulfat), Puskesmas menyiapkan rujukan segera ke RSU- dan menghubungi tim RSU untuk kesiapan mereka.

Tn. M yang tidak membawa uang atau baju ganti (saya lihat ternyata kaki nya pun bahkan tidak memakai sendal/ sepatu) dianjurkan memakai Jampersal supaya semua pembiayaan ditanggung negara.

Pasien dan suami langsung berangkat dengan Puskesmas ke RSU, biaya operasi, perawatan, ambulans akan ditanggung oleh Jampersal- karena kasus ini merupakan kehamilan dengan komplikasi/ penyulit, yang memang harus ditangani pada fasilitas kesehatan setingkat RSU.

Ini mungkin salahsatu kisah sukses dari kasus maternal.

Ibu dan kedua bayinya berhasil terselamatkan.

Bapak dan keluarganya juga terbantu secara finansial dengan adanya Jampersal.

Kematian terbanyak terjadi saat sekitar persalinan atau dalam 24 jam stelahnya
(Sumber: Ronsmans & Koblinsky 2006)
Sebagian besar kasus kematian ibu terjadi sekitar masa persalinan, yang intervensi/ penanganannya sudah diketahui caranya (widely known).

Faktor kesuksesan selamat atau tidaknya Ny. F dari kematian akibat kejang ini tergantung dari banyak hal, antara lain :

1. Suami mengetahui bahwa kejang adalah tanda bahaya dalam kehamilan, sehingga langsung membawa istrinya ke bidan desa.

2. Bidan desa mengetahui bahwa kejang dalam kehamilan membutuhkan penanganan segera dan tidak mungkin menangani sendirian, sehingga merujuk ke Puskesmas.

3. Tenaga kesehatan di Puskesmas bergerak sebagai sebuah tim yang menangani kasus dengan cepat, memberikan penanganan awal dan menyiapkan rujukan ke level yang lebih tinggi (RSU).

4. Tim di RSU mengetahui kasus rujukan lebih awal, sehingga mampu menyiapkan tindakan apa yang harus dilakukan (termasuk menyiapkan kamar operasi, memanggil dokter spesialis Obgyn dst)

5. Ambulans yang membawa pasien rujukan tiba sesuai waktu, pasien didampingi bidan dari Puskesmas yang merujuk.

6. Pembiayaan dengan Jampersal membuat suami pasien tidak usah menunggu lama untuk persyaratan administrasi/ membuat keputusan segera demi menyelamatkan nyawa istri dan bayinya.

Faktor ini tidak selalu berkaitan dengan hal medis, bahkan lebih kepada teknis.

Contohnya, poin #1 , 5, dan 6 tidak berkaitan dengan kompetensi medis.

Poin #1 penting untuk disosialisasikan dalam tingkat komunitas, contohnya di mesjid, posyandu, pertemuan RT/RW, iklan layanan masyarakat (koran, TV, radio).


Distribusi kematian maternal di seluruh dunia,
dimana 90% nya terjadi di negara berkembang (Afrika & Asia)
Sumber gambar: WHO, 2010

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih tertinggi di Asia Tenggara.
Seperti dilansir dalam berita VoA tanggal 22 September 2012, bahwa untuk mencapai MDGs tahun 2015, AKI di Indonesia perlu diturunkan dari 228 menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup.

Berita VoA yang bertajuk 'Indonesia Akan Luncurkan Program Emas Untuk Turunkan Angka Kematian Ibu Melahirkan' meliputi sekian elemen dari sebuah sistem yang diharapkan tercipta untuk menyelamatkan ibu melahirkan dan bayi bila terjadi kegawatdaruratan.

Selain elemen tenaga medis yang kompetensinya disiapkan dengan pelatihan, fasilitas kesehatan pun diperkuat agar dapat memberikan layanan yang sesuai standar.Tak lupa proses rujukan yang efisien dan jaminan dengan Jampersal, sebagai bagian dari sistem kesehatan.

Yang penting diketahui masyarakat bahwa adanya tanda bahaya dalam kehamilan (perdarahan, kejang, panas/ demam, bau dari jalan lahir) perlu ditangani segera, sehingga ibu tidak telat dibawa ke fasilitas kesehatan.

Poin #5 berkaitan dengan kendaraan/ fasilitas untuk proses rujukan.
Fungsi Ambulans sebagai kendaraan untuk merujuk erat kaitannya dengan supir, bensin, dan juga infrastruktur jalan.

Bayangkan bila infrastruktur jalan tidak ada atau keadaan geografis yang sulit (seperti di Indonesia bagian timur) akibatnya kasus kehamilan dengan komplikasi lambat ditangani.


MMR pada masyarakat miskin 2-3 x lebih besar dibanding mreka yang ekonomi menengah
(Sumber: Stanton et al. 2007; Lancet Maternal Health Series Steering Group 2006; WHO 2005)

Faktor sistem jaminan kesehatan sosial atau pembiayaan kesehatan, seperti Jamkesmas atau Jampersal memang dirancang untuk membantu mereka yang berasal dari kalangan sosio-ekonomi lemah.
Banyak keputusan medis diambil terkait dengan keadaan ekonomi, contohnya, suami yang takut biaya kontrol kehamilan ke Puskesmas mahal bisa saja menganjurkan istrinya cukup memeriksakan ke dukun. (Keputusan finansial biasanya diambil oleh suami).
Atau keluarga yang takut biaya berobat mahal memilih melahirkan di rumah, tanpa ditolong tenaga medis kompeten.

Sayangnya, kenyataan di lapangan, 'porsi' atau jatah bagi mereka dari keluarga miskin juga diambil oleh orang-orang yang sesungguhnya mampu membiayai persalinan dengan alasan 'mending ambil yang gratis daripada bayar'.



Ambulans, sebagai bagian dari proses rujukan ::
perlu supir yg handal, tenaga medis kompeten yg mendampingi pasien, serta peralatan memadai

Sebelum pulang dari RSU, saya menjumpai sang suami (yang masi abege itu) duduk di tangga (nunggu istrinya selesai operasi).
Sambil mengabarkan kondisi istrinya dan juga menganjurkan untuk segera memakai alat KB. Usia kehamilan yang terlalu muda (dibawah 20 tahun) menyebabkan istrinya rawan akan komplikasi saat hamil.

Merencanakan kehamilan dengan kontrasepsi/ alat KB juga perlu supaya kehamilan berikut berjarak paling tidak 2 tahun, agar bayi yang dilahirkan kondisinya baik dan bisa bertahan hidup.

Ini momentum baik untuk memotivasi pasangan (untuk pemasangan alat KB) apalagi sang suami menyaksikan sendiri istrinya disaat kejang, berjuang melawan maut.
Eklampsia atau kejang dalam kehamilan merupakan penyebab tersering kematian ibu di negara berkembang (disamping hipertensi, perdarahan, dan infeksi).

Disebutkan dalam berita VoA tsb, diperkirakan ada 10.000 perempuan Indonesia meninggal dunia akibat komplikasi saat kehamilan dan bersalin setiap tahunnya.
Ny. F termasuk beruntung bila luput dari salahsatu penyebab kematian ibu karena kesigapan petugas, prosedur dan proses rujukan segera, sebagai bagian sistem kesehatan telah berjalan baik.

Tapi masih ada banyak ibu hamil dan bayi yang meninggal karena lemahnya faktor pendukung medis maupun non-medis tsb.

Kita, petugas kesehatan berdiri di garis depan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Tapi kami juga memerlukan dukungan masyarakat karena ini merupakan tugas kita bersama.

Masyarakat bisa membantu dengan :

* Pemberian informasi bahwa setiap kehamilan dapat beresiko, oleh karena itu setiap persalinan hendaknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, didukung fasilitas kesehatan.

* Dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat, bahwa pembuat keputusan (suami, keluarga ; ibu mertua, bapak mertua) harus mengetahui keadaan gawat darurat saat kehamilan/ persalinan harus ditangani segera. Tidak bisa menunggu lama karena taruhannya nyawa.

* Sistem pembiayaan Jampersal mengutamakan mereka yang berasal dari status sosio-ekonomi lemah (keluarga miskin/ tidak mampu).
Jangan lah mengambil hak mereka jika kita mampu membiayai persalinan sendiri.

Banyak orang mampu mencicil motor/ mobil, tapi untuk punya bayi/anak koq pengennya gratisan.

Apakah motor/mobil kita lebih berharga daripada anak, sehingga kita tidak mau mengeluarkan biaya untuk kelahirannya?

* Perencanaan kehamilan penting supaya ibu terhindar dari resiko tinggi saat hamil/ melahirkan dan bayi yang dilahirkan sehat (keturunan yang berkualitas).

Kehamilan yang ideal hendaknya usia ibu diatas 20 tahun (terlalu muda dapat menyebabkan banyak komplikasi), dan diberi jarak paling sedikit 2 tahun dari kehamilan sebelumnya.
Kehamilan yang terlalu sering (jumlah anak lebih dari 5) juga merupakan faktor resiko untuk hipertensi dan perdarahan setelah melahirkan (postpartum hemorage) dan bayi yang dilahirkan biasanya kecil (low birth weight) serta rentan terhadap gagal nafas juga infeksi.

Resiko kematian bayi bertambah jika jarak kehamilan terlalu berdekatan
(kurang dari 24 bulan)
Sumber : www.globalhealthlearning.org

Hal lain yang menurut saya tidak kalah pentingnya adalah, pemerintah harus menginvestasikan pada pendidikan kaum perempuan/ calon ibu.

Sama seperti visi RA Kartini, pahlawan kita dan tokoh panutan saya, bahwa jika wanita diberi pendidikan yang layak maka akan terlahir keturunan yang berkualitas, secara fisik, mental dan spiritual.

Tidak ada komentar: