Jumat, Agustus 29, 2008

Organ kewanitaan kesat=enak ?

Kalau kita meneliti, betapa banyaknya iklan di media (televisi, koran/ media cetak, internet, dsb) yang mempromosikan obat/ramuan/jamu untuk membuat organ kewanitaan/ vagina menjadi kesat sehingga disayang suami (?????) Ini adalah persepsi yang sama sekali salah di masyarakat kita, bahwa vagina yang kesat menyebabkan hubungan seksual yang lebih enak.
Anggapan seperti ini jelas tidak berlaku untuk pihak wanita, karena untuk wanita lebih nyaman jika vaginanya basah saat berhubungan seks, karena jika vagina kering atau kesat menandakan pemanasan/foreplay tidak cukup sehingga pihak wanita tidak cukup terangsang/belum siap untuk melakukan hubungan seksual.

Tapi sayangnya, entah karena sejak kecil kita sudah di-indoktrinasi oleh budaya dan media bahwa vagina kesat/kering itu sesuatu yang baik (apalagi jika ingin disayang suami ???) banyak wanita mengkonsumsi/ menggunakan produk yang bisa mengeringkan/ mengurangi produksi lendir vagina. Ramuan tradisional/ jamu-jamuan seperti ini tidak bisa dibilang aman.
Bahkan ada efek samping yang berbahaya jika terus menerus mengkonsumsi ramuan ysb selama puluhan tahun. Salah jika ada ramuan/ jamu yang mengklaim menggunakan bahan dasar alami sehingga tidak ada efek samping yang membahayakan tubuh.
Banyaknya kasus tentang ramuan/jamu yang dicampur dengan obat atau malah zat yang berbahaya jika dikonsumsi seharusnya membuat kita lebih hati-hati dengan penggunaan ramuan tradisional semacam ini.

Normalnya organ kewanitaan kita memang dirancang untuk berlendir atau basah pada saat-saat tertentu.
Wanita umumnya cenderung merasa lebih "basah" saat masa subur. Keadaan seperti ini sangat wajar dan tidak perlu pemakaian sabun sirih untuk mencuci vagina, karena setelah lewat masa subur (1-2 hari) lendir tersebut akan berkurang. Pemakaian sabun pencuci vagina yang terlalu sering malah dapat menyebabkan keputihan pada wanita, karena normalnya vagina mempunyai sistem pertahanan tersendiri yang mencegah infeksi masuk ke organ kewanitaan. Pada pemakaian sabun pencuci vagina, sistem pertahanan tersebut terganggu sehingga membuat vagina lebih rentan untuk terkena infeksi dan menyebabkan keputihan.
Keadaan terangsang atau saat hubungan seksual juga normalnya membuat vagina lebih basah karena mengeluarkan lendir. Mekanisme seperti ini memang sudah diatur oleh Yang Mahakuasa, agar saat penis memasuki vagina (yang sudah basah) saat hubungan seksual tidak menyebabkan perlukaan saat bergesekan. Gesekan saat hubungan seksual menimbulkan mikrolesi (=perlukaan kecil) hal ini sangat berbahaya jika salahsatu pasangan mempunyai penyakit kelamin atau penyakit yang ditularkan melalui darah seperti Hepatitis B dan C , juga virus imunodefisiensi pada manusia /HIV.
Disinilah pentingnya memakai pengamanan (=kondom) setiap kali melakukan hubungan seksual bukan dengan pasangan tetap kita.
Sosialisasi pemakaian kondom belum diterima sebagai sesuatu yang wajar, stigma kondom masih stigma negatif di masyarakat kita.
Akibatnya banyak kasus istri tertular penyakit dari suaminya yang suka "jajan". 

Dari kasus HIV positif sendiri, sudah jelas sekali orang terinfeksi HIV tidak bisa disembuhkan seperti penyakit menular seksual lain yang bisa sembuh/hilang setelah minum obat.
Sekali orang terinfeksi HIV maka seumur hidupnya orang tersebut akan mempunyai antibodi positif terhadap HIV. [ Disebut seropositif ]
Hal semacam ini seharusnya diketahui secara luas, agar perubahan perilaku bisa diterapkan di kalangan masyarakat. Jika ingin melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang tidak kita ketahui benar latar belakangnya/ bahkan kelompok resiko tinggi seperti pekerja seksual, homoseksual/ waria, hendaknya pemakaian kondom merupakan sesuatu yang wajib.
Mitos seperti minum antibiotik sebelum hubungan seksual dapat menghindari penularan penyakit menular seksual dan HIV adalah sesuatu yang SALAH.
Sejauh ini metoda yang paling bisa diandalkan hanyalah KONDOM.
Walaupun masih banyak perdebatan bahwa efektifitas kondom belum 100 % mencegah penularan (apalagi jika kondom yang dipakai kualitasnya jelek sehingga mudah robek), tapi belum ditemukan metoda lain yang sebaik kondom.

Balik lagi ke soal vagina yang kesat lebih enak, mitos seperti ini perlu dimusnahkan seperti layaknya korupsi di pemerintahan. Sudah jelas anggapan seperti ini merugikan kaum wanita.
Dan sebagai wanita, jangan mau jadi korban media atau korban produk yang (katanya) mengatasnamakan wanita tapi sebenarnya merugikan.
Secara keseluruhan, tubuh kita sudah dirancang sedemikian sempurna oleh Yang Diatas, sehingga apa yang normal, sudah tidak seharusnya dimodifikasi lagi oleh pemakaian ramuan/jamu-jamuan untuk mengubah keadaan fisiologis tersebut.
Sebaliknya, hal tersebut malah bisa mendatangkan kerugian, atau yang paling buruknya penyakit pada tubuh kita.

Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan. 

Read More......

Sabtu, Juli 05, 2008

Normalkah Tekanan Darah Anda ?

" Apakah tekanan darah saya normal ? "


Itu pertanyaan yang sering ditanyakan orang setelah melakukan pengukuran tekanan darah (atau sering dibilang di-tensi).
Tekanan darah sifatnya sangat individual, tiap orang tidak sama batasannya, ada orang yang nyaman atau tidak ada keluhan dengan tekanan darah 100/60 mmHg (100 disebut tekanan sistol, dan 60 disebut tekanan diastol), berlainan dengan orang lain yang biasanya mempunyai tekanan darah 120/70 mmHg bisa mempunyai keluhan pusing atau lemas jika tensi/tekanan darahnya turun menjadi 100/60 mmHg.
Jadi tekanan darah yang dibilang rendah itu sifatnya sangat relatif, tergantung dari masing-masing individual.
Tekanan darah juga bisa berbeda keadaannya tergantung waktu pengukuran, dan kondisi tubuh. Contoh, orang saat bangun tidur cenderung mempunyai tekanan darah yang lebih rendah dibanding sesudah beraktivitas.
Oleh karena itu saat pengukuran tekanan darah di klinik atau tempat praktek dokter bisa didapatkan variasi yang berbeda-beda dari tiap kunjungan.
Semisal, pada suatu kunjungan tensi darah Anda yang biasanya berkisar 110/70 mmHg , tetapi saat dilakukan pengukuran oleh dokter didapatkan hasil tensi 130/80 mmHg. Mungkin karena sebelumnya Anda habis berjalan jauh ke tempat praktek (aktivitas fisik bisa menaikkan tekanan darah) atau saat itu kondisi badan Anda sedang merasa kesakitan (rasa nyeri juga bisa meningkatkan tekanan darah).

Apa yang dimaksud dengan Hipertensi ?


Menurut klasifikasi JNC pembagian tekanan darah dibagi atas 3 (tiga) kategori, yaitu Normal, Prehipertensi, dan Hipertensi.
Yang disebut Normal adalah tekanan darah sistol kurang dari 120 mmHg (SBP <120 mmHg) atau Diastol kurang dari 80 mmHg (DBP <80 mmHg) Termasuk kategori Prehipertensi jika tekanan darah sistol antara 120-139 mmHg dan tekanan Diastol 80-89 mmHg.
Sedangkan untuk Hipertensi sendiri dibagi menjadi 2 Stage.
Stage 1 jika tekanan Sistol antara 140-159 mmHg dan tekanan Diastol antara 90-99 mmHg, dan Stage 2 jika tekanan Sistol lebih atau sama dengan 160 mmHg dan tekanan Diastol lebih atau sama dengan 100 mmHg.

Lihat tabel tentang klasifikasi JNC.

Kenapa penting untuk mengetahui tekanan darah dan mengontrol tekanan darah dalam batas normal ?
Karena tekanan darah yang tinggi menambah resiko kematian akibat terkena penyakit jantung Mitral Insufisiensi (katup jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh) , stroke (pecah pembuluh darah di otak) , dan penyakit yang ada kaitannya dengan pembuluh darah.

Diperkirakan ada 46 juta orang (22 % dari populasi orang dewasa) masuk ke dalam kategori Prehipertensi. Pada populasi ini ditekankan perlunya perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya Hipertensi.
Modifikasi gaya hidup yang dimaksud adalah mengurangi berat badan, olahraga/aktivitas fisik, perubahan pola makan yang lebih sehat/ Diet khusus untuk penderita Hipertensi, mengurangi asupan garam, membatasi minum alkohol dan berhenti merokok.
Berhenti merokok juga sangat direkomendasikan untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. [Juga untuk kesehatan kondisi finansial pastinya.]

Circulation & Heart
Improve Blood Circulation Herbs and Heart Supplements.


Read More......

Sabtu, Juni 21, 2008

ensiklopedia obat (lanjutan)

Flukonazol : salahsatu golongan obat anti jamur.

Digunakan untuk pengobatan jamur baik infeksi lokal pada kulit maupun pada infeksi sistemik (infeksi yang meluas lewat peredaran darah).
Efektif pada penggunaan jangka panjang > 2 minggu.
Efek samping dari pemakaian Flukonazol tablet (diminum, pemakaian oral) dapat berupa mual, nyeri perut, diare, ruam/ rash pada kulit.

Guaiafenesin (sering disebut GG)
salahsatu bahan yang sering terdapat dalam campuran obat batuk atau obat flu.
Sifatnya sebagai expectoran atau mengeluarkan dahak, lebih efektif jika ditambah pemakaian Bromhexin (hati-hati pemakaian expectoran Bromheksin pada penderita Gastritis atau sakit maag )

Hiosina-butil-bromida
bahan ini umumnya terdapat pada obat-obatan untuk nyeri haid, nyeri/kram perut, dan gangguan perut lainnya yang membutuhkan relaksasi otot polos pada usus, seperti pada kasus mencret yang kronis.
Hati-hati penggunaan obat yang mengandung bahan ini pada penderita glaukoma, hipertrofi/ pembesaran kelenjar prostat yang sering susah kencing, penderita gangguan fungsi hati, dan anak kecil / bayi dengan megakolon (usus yang membesar karena kelainan bawaan).

Ibuprofen
Banyak iklan di media tentang penggunaan Ibuprofen sebagai obat penurun panas (=antipiretik) juga mempunyai mengurangi nyeri (=analgesik).
Harus diminum sesudah makan (saat lambung tidak kosong) karena dapat mengakibatkan gangguan lambung atau nyeri maag.
Sering diresepkan untuk pengobatan rhematoid dan osteoarthritis karena sifat anti-inflamasinya.


Kloramfenikol (=Chloramphenicol)
golongan antibiotik yang kerap digunakan untuk pengobatan infeksi Typhus / Typhoid, infeksi saluran pencernaan atau juga pada infeksi saluran nafas atas.
Efek samping penggunaan Kloramfenikol dapat berupa mual, anemia, dan Grey baby syndrome ( pada bayi baru lahir yang mendapat terapi Kloramfenikol dosis berlebihan)


Read More......

Jumat, Juni 20, 2008

Tadi siang ada seorang pasien yang meng-sms saya menanyakan merk suatu obat isinya apa.
Saya lihat di MIMS dan ISO (buku tentang obat-obatan) tapi ternyata tidak ada, mungkin versi ISO saya tidak up to date atau dia salah sms merk obat.
Untuk diketahui dari satu macam jenis obat saja (generik) bisa ada beberapa macam merk dagang, contohnya Parasetamol (obat penurun panas atau penghilang nyeri) bisa diperdagangkan dengan merk Bodrex, Panadol, Paramex etc. -ini bukan promosi obat loh-

Berikut adalah beberapa jenis obat (untuk edukasi) - tapi mohon jangan disalahgunakan dan jangan bikin gamau ke praktek dokter ya...

Acetaminophen : nama lain dari Parasetamol, golongan obat anti analgesik (anti nyeri) dan anti piretik (penurun demam) yang umum terdapat di obat flu.
Aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil dan penderita sakit lambung yang umumnya sensitif terhadap penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid lainnya.
Beberapa efek samping (jarang ditemukan) pada penggunaan Acetaminophen adalah bercak kemerahan pada kulit (skin rash) dan gejala alergi minor lainnya.

Betametason: (baca juga Kortikosteroid) :
Obat anti radang/ anti inflamasi yang berasal dari golongan kortikosteroid.
Biasanya digunakan untuk obat asma (pada semprotan), obat anti alergi (bentuk salep kulit) atau pada penyakit sistem kekebalan tubuh.


Cimetidine : (dibaca Simetidin)

Diuretik : golongan obat-obatan yang sifatnya meningkatkan produksi air kencing, digunakan sebagai terapi pada penderita tekanan darah tinggi.
Golongan obat diuretik yang umum diresepkan contohnya HCT (hydrochlorothiazide) dan Spironolakton.
Efek samping dari penggunaan jangka panjang bisa berupa hipokalemi (kadar kalium rendah dalam darah), dan hiperurisemia (kadar asam urat meningkat dalam darah) Penggunaan diuretik harus dihindari pada pasien tekanan darah tinggi disertai kencing manis (diabetes) atau pada penderita kolesterol.

Efedrin (juga Pseudoefedrin) : golongan obat adrenergic agonis, umumnya dipakai dalam campuran obat flu sebagai nasal dekongestan (mencegah hidung mampet, bikin nafas plong). Sifatnya bronkodilator (melebarkan saluran nafas=bronkus) juga dipakai sebagai obat pencegah asma.
Semakin jarang penggunaannya karena meningkatkan tekanan darah.

Okay... segini dulu nanti besok diteruskan lagi :)

Read More......

Kamis, Juni 19, 2008

Merokok kurangi kecerdasan

Para perokok terutama yang usia dewasa muda, cenderung memiliki kelemahan dalam hal ingatan dan kecerdasan dibanding mereka yang tidak merokok. Ini berdasarkan penelitian di Prancis ( Institut Kesehatan Nasional dan Penelitian Medis, Villejiuf ) dari data 5,000 perokok warga Inggris, ditemukan bahwa

mereka yang merokok lebih rendah tingkat ingatan, bernalar, kosakata, dan kecakapan verbalnya dibanding mereka yang tidak merokok.
Dibanding mereka yang tidak merokok, para non smoker juga memiliki kebiasaan hidup yang lebih sehat, seperti tidak mengkonsumsi alkohol, aktif secara fisik, makan banyak buah dan sayur, dll.


[ sumber: harian Pikiran Rakyat tgl 19 Juni 2008 ]



Selain itu, non smoker juga lebih disukai cewe karena lebih wangi, dan gak cepet cape / ngos-ngosan kalo maen bola. . . . *halah*

Read More......

Minggu, Juni 15, 2008

Pro dan Kontra Pengobatan Alternatif

Saat ini banyak media cetak maupun televisi menayangkan banyak pengobatan alternatif untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari darah tinggi/hipertensi, kencing manis, lemah syahwat, patah tulang, tumor/kanker, dan lain sebagainya tanpa operasi atau tanpa harus mengkonsumsi obat-obatan.
Amankah pengobatan demikian ?
Apakah pengobatan seperti itu manjur dan lebih murah,tidak repot sehingga menyebabkan banyak orang mencari pertolongan medis ke pengobatan alternatif daripada berobat ke dokter atau Rumah Sakit ?

Di saat dunia kedokteran di Indonesia sendiri saat ini sedang hangat dibahas tentang Undang-Undang / Peraturan Menkes baru tentang Tenaga Dokter, yang pada dasarnya dibuat untuk melindungi kepentingan pasien supaya mendapat standar pengobatan/ terapi yang layak, jenis pengobatan alternatif malah semakin 'menjamur'.
Padahal pengobatan alternatif tidak mempunyai standar yang jelas, atau bahkan tidak ada 'perlindungan' terhadap pasien.


Perlu dibedakan antara pengobatan alternatif yang sifatnya ber-orientasi dunia kedokteran timur seperti akupunktur / tusuk jarum, dan pengobatan alternatif yang sifatnya tidak masuk akal, seperti meminum ramuan tertentu yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu singkat.

Jika ada kesaksian / testimonial dari seorang pasien yang sembuh dengan pengobatan seperti itu, perlu dikonfirmasi lagi, penyakit apa yang sebelumnya diderita, dan apakah disembuhkan oleh pengobatan tersebut atau memang sifatnya self-limiting disease.

Berikut tulisan dari dokter Handrawan Nadesul yang telah dimuat di koran Kompas :

Seorang mantan pejabat cangkok ginjal gara-gara tiap hari minum obat encok China. Tak tahu obat yang dibeli tak berizin dan merusak ginjal. Kasus begini tak perlu terjadi kalau masyarakat tahu bahaya minum obat sembarangan.
Stasiun TV kita menyiarkan aneka penyembuhan tak jelas dasar mediknya. Praktik pengobatan tanpa bukti ilmiah menjamur di mana-mana. Iklan koran dipenuhi oleh janji penyembuh dan bahan berkhasiat yang tak masuk akal medik. Dikepung informasi medik menyesatkan, masyarakat teperdaya karena tak ada yang memberi tahu itu keliru.
Dunia medik bukan tak terbuka bagi cara penyembuhan lain. Kita mengenal complementary alternative medicine (CAM). CAM di negara maju amat berkembang. Cara penyembuhan (healing) maupun pengobatan (theurapeutic) nonmedik bukan tergolong terapi standar medik bisa diterima akal medik, kini menjadi pelengkap terapi. Sebut saja akupunktur, homeopathy, chiropractic, dan sejenis itu lainnya.
Namun, masyarakat perlu diberi tahu juga tidak setiap cara nonmedik apa saja boleh dipercaya. Informasi bahan berkhasiat atau cara penyembuhan nonmedik tentu bohongnya jika mengaku mampu menyembuhkan segala penyakit. Kalau yang sesat seperti itu tak diberi tahu, masyarakat terus percaya, lalu teperdaya.
Kini tak sedikit informasi medik tergolong hoax, sekadar pseudoscience, atau yang tak punya bukti ilmiah, beredar luas di website, berpotensi mengecoh pasien. Yang sudah jelas bahan obatnya sekalipun masih perlu disangsikan jika belum lulus teruji. Harus dianggap berlebihan klaim yang menyebut penyakit apa saja bisa dilawan dengan Ginkgo biloba, bawang putih, atau omega-3, misalnya.
Kalau iklan penyembuhan nonmedik apa saja disiarkan TV dan koran tanpa disensor, masyarakat terus saja teperdaya.
Keliru pula iklan yang menyebut karena bahan dari alam, pasti aman.
Tahun-tahun belakangan sejumlah bahan berkhasiat, jamu, fitofarmaka (Mahuang, Ephedra, misalnya) ditarik WHO sebab terbukti tidak aman.
Bertahun-tahun pasien kita terus minum jamu nakal dicampur obat dokter (antara lain obat golongan kortikosteroid) , tak menginsafi karena tak ada yang memberi tahu kelak berakibat keropos tulang, kena kencing manis, darah tinggi, selain gangguan hormonal.

Efek plasebo
Tak ada pula yang memberi tahu masyarakat bahwa sembuh dan sembuh bisa berarti dua. Dalam kesembuhan nonmedik bisa berlaku efek plasebo. Segelas air putih bisa menjadi obat kalau pasien percaya siapa yang memberi. Pasien "merasa" sembuh saja belum berarti sudah sembuh. Kesembuhan sejati perlu pembuktian medik.
Maka, apa saja yang menyebut diri obat, masyarakat perlu dibuat jangan lekas percaya. Belum tergolong sembuh medik jika cara atau bahan berkhasiat yang sama tidak menyembuhkan semua pasien berpenyakit sama. Percaya saja hanya karena ada yang bisa disembuhkan, itu yang acap menyesatkan.
Bukan saja iming-iming non- medik, ketika industri medik sendiri makin merangsek masuk, pihak pasien berisiko dirugikan. Kondisi industrio-medical complex kini memosisikan pasien kita menjadi teperdaya.
Akibat masuknya industri ke layanan medik yang mestinya sarat moral, semakin mengokohkan otonomi medik, duplikasi pemeriksaan, polifarmasi (meresepkan obat berlebihan), dan overutilisasi alat medik, sebagai bagian industri rumah sakit. Layanan medik mengalami dehumanisasi, depersonalisasi, selain ongkos berobat tinggi.
Lalu, pilihan berobat nonmedik jadi masuk akal karena secara kultur pasien kita lebih akrab pada yang serba magis dan mistis. Dikepung dua layanan yang sama tidak menguntungkan pihak pasien, pasien kita terjepit.
Sementara tangan pemerintah kelewat pendek untuk mengontrol segala yang merugikan pasien.
Maka, tak ada cara tepat untuk menolong pasien selain dengan membuat masyarakat lebih cerdas dalam berobat.
Saatnya pemerintah, media massa, dan LSM ikut menambah wawasan hidup sehat masyarakat luas dan bukannya menumbuhkan pembodohan.

Semoga masyarakat kita boleh semakin pintar dan kritis dalam menilai suatu pengobatan....

Read More......

Selasa, Juni 10, 2008

Pemakaian Antibiotik yang tidak Rasional

Teman saya sakit batuk selama beberapa hari, lalu saya tanya ;

" Udah minum obat apa ? Udah ke dokter ? "
" Obat batuk sama antibiotik. Beli aja sendiri ke apotik. "

Memang masyarakat kita ini sudah terbiasa kalau sakit dikit pengen pake antibiotik ( supaya cepet sembuhnya, beli sendiri lagi bukan pakai resep dokter).
Minum antibiotik tanpa aturan yang jelas, selain tidak tepat guna (efektif) juga bisa menyebabkan kuman penyakit / bakteri menjadi kebal terhadap obat antibiotik golongan tertentu. Juga bila suatu saat bila tubuh kita memang memerlukan pengobatan antibiotik, harus dikeluarkan biaya yang lebih mahal untuk membeli antibiotik dari golongan yang lebih ampuh.

Contohnya adalah begini, kita sebut saja suatu merk generik obat antibiotik yang paling jadi favorit masyarakat : Amoksisilin.

Amoksisilin (Amox) umumnya diresepkan dokter bila terjadi infeksi pada saluran pernafasan atas ( batuk, pilek, disertai demam, ada nyeri tenggorokan, faring hiperemis dsb ) karena infeksi saluran pernafasan atas sering disebabkan oleh kuman / bakteri Streptococcus sp. yang memang sensitif terhadap antibiotik semacam Amox.
Sayangnya penggunaan Amox secara sembarangan, contoh pada indikasi yang tidak tepat seperti sakit flu biasa / common cold akan merugikan tubuh karena tubuh harus memetabolisir obat tersebut atau bahkan menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Lalu bila suatu saat memang benar tubuh memerlukan Amox untuk pengobatan, bakteri Streptococcus sp. tersebut bisa menjadi kebal (disebut resisten) sehingga perlu ditambah / diganti dengan antibiotik golongan lain yang lebih kuat efeknya, atau berbeda cara kerjanya, dan tentu saja lebih mahal.

Pemakaian antibiotik yang benar adalah sebagai berikut :
1. Harus dengan resep dokter, supaya sesuai dengan indikasi.
Tidak semua penyakit memerlukan antibiotik, bila disebabkan oleh jamur tentu obatnya bukan antibiotik melainkan anti jamur (fungisida).
2. Diminum sesuai aturan.
Bila dianjurkan 3 kali sehari, berarti beri selang 5-6 jam untuk setiap waktu pemakaian, agar kadar obat yang terciptak di darah efektif untuk melawan bakteri.
3. Perhatikan apakah antibiotik diminum sesudah atau sebelum makan.
Ini penting untuk mengoptimalkan kerja obat, juga untuk mencegah efek samping seperti nyeri lambung.
4. Selalu habiskan antibiotik sesuai yang diresepkan.
Bila dokter meresepkan untuk 5 hari, habiskan semua antibiotik sesuai anjuran.
Kadang pasien merasa bila sudah 2-3 hari minum antibiotik badan sudah terasa enak, lalu menghentikan sendiri pemakaian.
Ini juga dapat menyebabkan bakteri / kuman menjadi kebal terhadap antibiotik.
5. Hentikan pemakaian antibiotik bila terdapat tanda-tanda alergi obat.
Segera hentikan pemakaian antibiotik jika terdapat reaksi kemerahan pada kulit (skin rash), gatal/melepuh, badan terasa panas/demam atau reaksi lain yang tidak sewajarnya.
Laporkan ke dokter supaya dicatat dalam riwayat pemakaian obat.
Bila anda alergi terhadap suatu golongan obat, kemungkinan seumur hidup anda tidak dapat mengkonsumsi obat golongan itu.


Read More......