Selasa, Januari 22, 2008

KB : dua anak cukup

Jaman sekarang sekedar untuk punya anak saja tentu gampang.
Untuk menghidupi dan memberi makan mungkin bukan masalah.
Tapi tanggung jawab orangtua tentu bukan menyangkut kedua hal itu saja, tapi juga menyangkut kualitas kehidupan sang anak, seperti pendidikan dan kesehatan.
Siapa yang merencanakan anaknya hanya menjadi lulusan SD?
Tapi nyatanya banyak masyarakat kita yang hidup seperti itu.
Penghasilan pas-pasan tapi (berani) punya anak banyak.
Masihkan sekarang berlaku "banyak anak banyak rejeki" ?

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya mendapat pendidikan sebaik-baiknya, setinggi-tingginya.
Yang nantinya diharapkan mempunyai profesi yang bagus dan (kalau bisa) menghasilkan uang banyak.

Tapi sebaliknya, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi orang susah, mau sekolah tinggi tapi tidak punya uang, mau kerja ditolak orang karena tidak bisa menebus sertifikat tanda lulus SMA.
Seringkali ibu-ibu yang sudah mempunyai anak lebih dari 2 disarankan untuk menggunakan alat KB yang lebih permanen sifatnya seperti IUD (IntraUterineDevice) atau "dipasang".
Banyak yang menjawab " Nanti tanya bapaknya dulu..."
Bukankah rahimnya milik dirinya sendiri ?
Bukankah bahwa perempuan yang hamil? (dan bertaruh nyawa saat melahirkan?)

Betul bahwa keputusan penting harus melibatkan pasangannya.
Tapi bagaimana kalau si bapak menolak istrinya dipasang IUD?

Pemasangan IUD dimaksudkan supaya kedua pasangan bisa mempunyai keluarga yang berkualitas, hubungan seks dapat dilakukan dengan nyaman tanpa pihak istri atau suami takut terjadi kehamilan saat berhubungan badan.

Kenyataan yang sangat kontradiktif, bahwa semakin tinggi pendidikan seorang perempuan semakin mawas (aware) juga terhadap hak atas alat reproduksi, dan juga semakin menimbang keputusan untuk mempunyai anak.
Sebaliknya, perempuan yang tingkat pendidikannya rendah cenderung tidak mawas terhadap hak atas alat reproduksi. Mengakibatkan banyak perempuan dengan tingkat pendidikan rendah menikah dan punya anak pada usia dini (mungkin saat alat reproduksi belum matang), kehilangan masa remaja (masa untuk bersosialisasi dan bersenang-senang), lalu mempunyai anak lebih banyak lagi (karena tidak tahu pentingnya pemakaian alat KB) , lalu menghasilkan generasi yang tidak berkualitas lagi karena tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya.

Kedengaran ironis tapi nyatanya banyak kejadian seperti itu kita jumpai.

Kita bisa memutuskan lingkaran setan itu dengan cara :
1. Menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan alat reproduksi kepada setiap perempuan, bahwa perempuan berhak memutuskan kapan dia siap untuk mempunyai anak (hamil, melahirkan) , dan menetapkan jumlah anak yang dimilikinya.
Ingat bahwa setiap resiko kehamilan dan melahirkan ditanggung oleh perempuan bukan oleh laki-laki.
2. Menanamkan pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan (hak anak perempuan untuk bersekolah sama pentingnya seperti anak laki-laki) karena perempuan yang memperoleh pendidikan baik cenderung menghasilkan generasi yang lebih berkualitas.
3. Menganjurkan setiap keluarga hanya memiliki dua anak saja, selain supaya kedua anak bisa memperoleh pendidikan dan kehidupan yang layak juga untuk alasan karena jumlah penduduk dunia sudah semakin banyak.

1 komentar:

arifin mengatakan...

Saya sepakat pendapat anda yang mengatakan bahwa 'itu adalah rahimnya sendiri' tapi perlu diketahui bersama bahwa berkeluarga berarti melibatkan banyak orang dan bukan diri pribadi saja.jadi sangat wajar kalo ada komentar 'tanya bapak dulu'. Ini yang dinamakan dengan keharmonisan dalam rumah tangga,dimana semua masalah dipecahkan dan ditanggung bersama dan bukan bergerak dengan keinginan sendiri2. Klo hal ini yg terjadi berarti dalam rumah tersebut tidak layak disebut sebagai rumah orang berkeluarga tapi hanya disebut sebagai rumah tempat dua orang dewasa makan dan tidur.