Minggu, Juni 15, 2008

Pro dan Kontra Pengobatan Alternatif

Saat ini banyak media cetak maupun televisi menayangkan banyak pengobatan alternatif untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari darah tinggi/hipertensi, kencing manis, lemah syahwat, patah tulang, tumor/kanker, dan lain sebagainya tanpa operasi atau tanpa harus mengkonsumsi obat-obatan.
Amankah pengobatan demikian ?
Apakah pengobatan seperti itu manjur dan lebih murah,tidak repot sehingga menyebabkan banyak orang mencari pertolongan medis ke pengobatan alternatif daripada berobat ke dokter atau Rumah Sakit ?

Di saat dunia kedokteran di Indonesia sendiri saat ini sedang hangat dibahas tentang Undang-Undang / Peraturan Menkes baru tentang Tenaga Dokter, yang pada dasarnya dibuat untuk melindungi kepentingan pasien supaya mendapat standar pengobatan/ terapi yang layak, jenis pengobatan alternatif malah semakin 'menjamur'.
Padahal pengobatan alternatif tidak mempunyai standar yang jelas, atau bahkan tidak ada 'perlindungan' terhadap pasien.

Perlu dibedakan antara pengobatan alternatif yang sifatnya ber-orientasi dunia kedokteran timur seperti akupunktur / tusuk jarum, dan pengobatan alternatif yang sifatnya tidak masuk akal, seperti meminum ramuan tertentu yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu singkat.

Jika ada kesaksian / testimonial dari seorang pasien yang sembuh dengan pengobatan seperti itu, perlu dikonfirmasi lagi, penyakit apa yang sebelumnya diderita, dan apakah disembuhkan oleh pengobatan tersebut atau memang sifatnya self-limiting disease.

Berikut tulisan dari dokter Handrawan Nadesul yang telah dimuat di koran Kompas :

Seorang mantan pejabat cangkok ginjal gara-gara tiap hari minum obat encok China. Tak tahu obat yang dibeli tak berizin dan merusak ginjal. Kasus begini tak perlu terjadi kalau masyarakat tahu bahaya minum obat sembarangan.
Stasiun TV kita menyiarkan aneka penyembuhan tak jelas dasar mediknya. Praktik pengobatan tanpa bukti ilmiah menjamur di mana-mana. Iklan koran dipenuhi oleh janji penyembuh dan bahan berkhasiat yang tak masuk akal medik. Dikepung informasi medik menyesatkan, masyarakat teperdaya karena tak ada yang memberi tahu itu keliru.
Dunia medik bukan tak terbuka bagi cara penyembuhan lain. Kita mengenal complementary alternative medicine (CAM). CAM di negara maju amat berkembang. Cara penyembuhan (healing) maupun pengobatan (theurapeutic) nonmedik bukan tergolong terapi standar medik bisa diterima akal medik, kini menjadi pelengkap terapi. Sebut saja akupunktur, homeopathy, chiropractic, dan sejenis itu lainnya.
Namun, masyarakat perlu diberi tahu juga tidak setiap cara nonmedik apa saja boleh dipercaya. Informasi bahan berkhasiat atau cara penyembuhan nonmedik tentu bohongnya jika mengaku mampu menyembuhkan segala penyakit. Kalau yang sesat seperti itu tak diberi tahu, masyarakat terus percaya, lalu teperdaya.
Kini tak sedikit informasi medik tergolong hoax, sekadar pseudoscience, atau yang tak punya bukti ilmiah, beredar luas di website, berpotensi mengecoh pasien. Yang sudah jelas bahan obatnya sekalipun masih perlu disangsikan jika belum lulus teruji. Harus dianggap berlebihan klaim yang menyebut penyakit apa saja bisa dilawan dengan Ginkgo biloba, bawang putih, atau omega-3, misalnya.
Kalau iklan penyembuhan nonmedik apa saja disiarkan TV dan koran tanpa disensor, masyarakat terus saja teperdaya.
Keliru pula iklan yang menyebut karena bahan dari alam, pasti aman.
Tahun-tahun belakangan sejumlah bahan berkhasiat, jamu, fitofarmaka (Mahuang, Ephedra, misalnya) ditarik WHO sebab terbukti tidak aman.
Bertahun-tahun pasien kita terus minum jamu nakal dicampur obat dokter (antara lain obat golongan kortikosteroid) , tak menginsafi karena tak ada yang memberi tahu kelak berakibat keropos tulang, kena kencing manis, darah tinggi, selain gangguan hormonal.

Efek plasebo
Tak ada pula yang memberi tahu masyarakat bahwa sembuh dan sembuh bisa berarti dua. Dalam kesembuhan nonmedik bisa berlaku efek plasebo. Segelas air putih bisa menjadi obat kalau pasien percaya siapa yang memberi. Pasien "merasa" sembuh saja belum berarti sudah sembuh. Kesembuhan sejati perlu pembuktian medik.
Maka, apa saja yang menyebut diri obat, masyarakat perlu dibuat jangan lekas percaya. Belum tergolong sembuh medik jika cara atau bahan berkhasiat yang sama tidak menyembuhkan semua pasien berpenyakit sama. Percaya saja hanya karena ada yang bisa disembuhkan, itu yang acap menyesatkan.
Bukan saja iming-iming non- medik, ketika industri medik sendiri makin merangsek masuk, pihak pasien berisiko dirugikan. Kondisi industrio-medical complex kini memosisikan pasien kita menjadi teperdaya.
Akibat masuknya industri ke layanan medik yang mestinya sarat moral, semakin mengokohkan otonomi medik, duplikasi pemeriksaan, polifarmasi (meresepkan obat berlebihan), dan overutilisasi alat medik, sebagai bagian industri rumah sakit. Layanan medik mengalami dehumanisasi, depersonalisasi, selain ongkos berobat tinggi.
Lalu, pilihan berobat nonmedik jadi masuk akal karena secara kultur pasien kita lebih akrab pada yang serba magis dan mistis. Dikepung dua layanan yang sama tidak menguntungkan pihak pasien, pasien kita terjepit.
Sementara tangan pemerintah kelewat pendek untuk mengontrol segala yang merugikan pasien.
Maka, tak ada cara tepat untuk menolong pasien selain dengan membuat masyarakat lebih cerdas dalam berobat.
Saatnya pemerintah, media massa, dan LSM ikut menambah wawasan hidup sehat masyarakat luas dan bukannya menumbuhkan pembodohan.

Semoga masyarakat kita boleh semakin pintar dan kritis dalam menilai suatu pengobatan....

Tidak ada komentar: