GoodGoes
Tampilkan postingan dengan label reproductive health. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reproductive health. Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 22, 2012

Hampir saja tak tertolong :: Kasus near miss maternal


Hari ini, adalah hari yang bersejarah bagi pasangan Ny. F dan Tn. M

Karena hari ini adalah lahirnya bayi kembar mereka, berat 2300 gram dan 1900 gram.

Peristiwa kelahiran kedua bayi mereka dimulai dengan kejangnya Ny. F saat kehamilannya mencapai usia kehamilan cukup bulan.
Tn. M yang panik, langsung membawa istrinya ke bidan praktek terdekat (tanpa membawa apapun, hanya baju yang melekat)

Bidan praktek yang saat itu sedang menangani persalinan, langsung meninggalkan pasiennya, dan mengantar Ny. F dan suaminya Tn. M ke Puskesmas terdekat.

Di Puskesmas itu, dalam waktu 30 menit, perawat, bidan dan petugas kesehatan yang bertugas langsung memberikan penanganan.
Obat anti kejang diberikan dan stabilisasi dilakukan sebelum melakukan perujukan dengan ambulans ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Tim RSUD sudah mengetahui bahwa ada pasien hamil yang kejang sedang diberangkatkan ke tempat mereka bertugas.
Beberapa menit sebelum pasien sampai, bagian unit gawat darurat, kamar bersalin dan kamar operasi sudah mengetahui bahwa pasien ini membutuhkan operasi segera.

Pasien kejang dalam kehamilan membutuhkan tindakan operasi sesar segera untuk menyelamatkan janin dan juga nyawanya sendiri.

Saat ini, kabar terbaru adalah pasien sudah pulih kesadarannya setelah operasi - dan memasuki ruang perawatan ibu.

Ini bukan cerita rekaan, karena saya ada sendiri pada saat peristiwa ini terjadi.

Siang itu saya memang sedang berada di Puskesmas tempat kejadian perkara, dengan agenda kunjungan bertemu dengan kepala Puskesmas dan bidan koordinator.
Tidak lama setelah kami membicarakan agenda acara klinis untuk bulan mendatang, pasien Ny. F ini datang bersama suaminya.

Ini kehamilan yang pertama,
kata Tn. M yang baru berusia 18 tahun (!!!)

Ny. F yang juga berusia 18 tahun, datang dengan kejang, yang sebelumnya tidak pernah dialami saat kontrol kehamilan di Rumah Sakit terdekat.

Setelah pemberian dosis awal obat antikejang (Magnesium Sulfat), Puskesmas menyiapkan rujukan segera ke RSU- dan menghubungi tim RSU untuk kesiapan mereka.

Tn. M yang tidak membawa uang atau baju ganti (saya lihat ternyata kaki nya pun bahkan tidak memakai sendal/ sepatu) dianjurkan memakai Jampersal supaya semua pembiayaan ditanggung negara.

Pasien dan suami langsung berangkat dengan Puskesmas ke RSU, biaya operasi, perawatan, ambulans akan ditanggung oleh Jampersal- karena kasus ini merupakan kehamilan dengan komplikasi/ penyulit, yang memang harus ditangani pada fasilitas kesehatan setingkat RSU.

Ini mungkin salahsatu kisah sukses dari kasus maternal.

Ibu dan kedua bayinya berhasil terselamatkan.

Bapak dan keluarganya juga terbantu secara finansial dengan adanya Jampersal.

Kematian terbanyak terjadi saat sekitar persalinan atau dalam 24 jam stelahnya
(Sumber: Ronsmans & Koblinsky 2006)
Sebagian besar kasus kematian ibu terjadi sekitar masa persalinan, yang intervensi/ penanganannya sudah diketahui caranya (widely known).

Faktor kesuksesan selamat atau tidaknya Ny. F dari kematian akibat kejang ini tergantung dari banyak hal, antara lain :

1. Suami mengetahui bahwa kejang adalah tanda bahaya dalam kehamilan, sehingga langsung membawa istrinya ke bidan desa.

2. Bidan desa mengetahui bahwa kejang dalam kehamilan membutuhkan penanganan segera dan tidak mungkin menangani sendirian, sehingga merujuk ke Puskesmas.

3. Tenaga kesehatan di Puskesmas bergerak sebagai sebuah tim yang menangani kasus dengan cepat, memberikan penanganan awal dan menyiapkan rujukan ke level yang lebih tinggi (RSU).

4. Tim di RSU mengetahui kasus rujukan lebih awal, sehingga mampu menyiapkan tindakan apa yang harus dilakukan (termasuk menyiapkan kamar operasi, memanggil dokter spesialis Obgyn dst)

5. Ambulans yang membawa pasien rujukan tiba sesuai waktu, pasien didampingi bidan dari Puskesmas yang merujuk.

6. Pembiayaan dengan Jampersal membuat suami pasien tidak usah menunggu lama untuk persyaratan administrasi/ membuat keputusan segera demi menyelamatkan nyawa istri dan bayinya.

Faktor ini tidak selalu berkaitan dengan hal medis, bahkan lebih kepada teknis.

Contohnya, poin #1 , 5, dan 6 tidak berkaitan dengan kompetensi medis.

Poin #1 penting untuk disosialisasikan dalam tingkat komunitas, contohnya di mesjid, posyandu, pertemuan RT/RW, iklan layanan masyarakat (koran, TV, radio).


Distribusi kematian maternal di seluruh dunia,
dimana 90% nya terjadi di negara berkembang (Afrika & Asia)
Sumber gambar: WHO, 2010

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia saat ini masih tertinggi di Asia Tenggara.
Seperti dilansir dalam berita VoA tanggal 22 September 2012, bahwa untuk mencapai MDGs tahun 2015, AKI di Indonesia perlu diturunkan dari 228 menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup.

Berita VoA yang bertajuk 'Indonesia Akan Luncurkan Program Emas Untuk Turunkan Angka Kematian Ibu Melahirkan' meliputi sekian elemen dari sebuah sistem yang diharapkan tercipta untuk menyelamatkan ibu melahirkan dan bayi bila terjadi kegawatdaruratan.

Selain elemen tenaga medis yang kompetensinya disiapkan dengan pelatihan, fasilitas kesehatan pun diperkuat agar dapat memberikan layanan yang sesuai standar.Tak lupa proses rujukan yang efisien dan jaminan dengan Jampersal, sebagai bagian dari sistem kesehatan.

Yang penting diketahui masyarakat bahwa adanya tanda bahaya dalam kehamilan (perdarahan, kejang, panas/ demam, bau dari jalan lahir) perlu ditangani segera, sehingga ibu tidak telat dibawa ke fasilitas kesehatan.

Poin #5 berkaitan dengan kendaraan/ fasilitas untuk proses rujukan.
Fungsi Ambulans sebagai kendaraan untuk merujuk erat kaitannya dengan supir, bensin, dan juga infrastruktur jalan.

Bayangkan bila infrastruktur jalan tidak ada atau keadaan geografis yang sulit (seperti di Indonesia bagian timur) akibatnya kasus kehamilan dengan komplikasi lambat ditangani.


MMR pada masyarakat miskin 2-3 x lebih besar dibanding mreka yang ekonomi menengah
(Sumber: Stanton et al. 2007; Lancet Maternal Health Series Steering Group 2006; WHO 2005)

Faktor sistem jaminan kesehatan sosial atau pembiayaan kesehatan, seperti Jamkesmas atau Jampersal memang dirancang untuk membantu mereka yang berasal dari kalangan sosio-ekonomi lemah.
Banyak keputusan medis diambil terkait dengan keadaan ekonomi, contohnya, suami yang takut biaya kontrol kehamilan ke Puskesmas mahal bisa saja menganjurkan istrinya cukup memeriksakan ke dukun. (Keputusan finansial biasanya diambil oleh suami).
Atau keluarga yang takut biaya berobat mahal memilih melahirkan di rumah, tanpa ditolong tenaga medis kompeten.

Sayangnya, kenyataan di lapangan, 'porsi' atau jatah bagi mereka dari keluarga miskin juga diambil oleh orang-orang yang sesungguhnya mampu membiayai persalinan dengan alasan 'mending ambil yang gratis daripada bayar'.



Ambulans, sebagai bagian dari proses rujukan ::
perlu supir yg handal, tenaga medis kompeten yg mendampingi pasien, serta peralatan memadai

Sebelum pulang dari RSU, saya menjumpai sang suami (yang masi abege itu) duduk di tangga (nunggu istrinya selesai operasi).
Sambil mengabarkan kondisi istrinya dan juga menganjurkan untuk segera memakai alat KB. Usia kehamilan yang terlalu muda (dibawah 20 tahun) menyebabkan istrinya rawan akan komplikasi saat hamil.

Merencanakan kehamilan dengan kontrasepsi/ alat KB juga perlu supaya kehamilan berikut berjarak paling tidak 2 tahun, agar bayi yang dilahirkan kondisinya baik dan bisa bertahan hidup.

Ini momentum baik untuk memotivasi pasangan (untuk pemasangan alat KB) apalagi sang suami menyaksikan sendiri istrinya disaat kejang, berjuang melawan maut.
Eklampsia atau kejang dalam kehamilan merupakan penyebab tersering kematian ibu di negara berkembang (disamping hipertensi, perdarahan, dan infeksi).

Disebutkan dalam berita VoA tsb, diperkirakan ada 10.000 perempuan Indonesia meninggal dunia akibat komplikasi saat kehamilan dan bersalin setiap tahunnya.
Ny. F termasuk beruntung bila luput dari salahsatu penyebab kematian ibu karena kesigapan petugas, prosedur dan proses rujukan segera, sebagai bagian sistem kesehatan telah berjalan baik.

Tapi masih ada banyak ibu hamil dan bayi yang meninggal karena lemahnya faktor pendukung medis maupun non-medis tsb.

Kita, petugas kesehatan berdiri di garis depan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Tapi kami juga memerlukan dukungan masyarakat karena ini merupakan tugas kita bersama.

Masyarakat bisa membantu dengan :

* Pemberian informasi bahwa setiap kehamilan dapat beresiko, oleh karena itu setiap persalinan hendaknya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten, didukung fasilitas kesehatan.

* Dukungan dari tokoh agama dan tokoh masyarakat, bahwa pembuat keputusan (suami, keluarga ; ibu mertua, bapak mertua) harus mengetahui keadaan gawat darurat saat kehamilan/ persalinan harus ditangani segera. Tidak bisa menunggu lama karena taruhannya nyawa.

* Sistem pembiayaan Jampersal mengutamakan mereka yang berasal dari status sosio-ekonomi lemah (keluarga miskin/ tidak mampu).
Jangan lah mengambil hak mereka jika kita mampu membiayai persalinan sendiri.

Banyak orang mampu mencicil motor/ mobil, tapi untuk punya bayi/anak koq pengennya gratisan.

Apakah motor/mobil kita lebih berharga daripada anak, sehingga kita tidak mau mengeluarkan biaya untuk kelahirannya?

* Perencanaan kehamilan penting supaya ibu terhindar dari resiko tinggi saat hamil/ melahirkan dan bayi yang dilahirkan sehat (keturunan yang berkualitas).

Kehamilan yang ideal hendaknya usia ibu diatas 20 tahun (terlalu muda dapat menyebabkan banyak komplikasi), dan diberi jarak paling sedikit 2 tahun dari kehamilan sebelumnya.
Kehamilan yang terlalu sering (jumlah anak lebih dari 5) juga merupakan faktor resiko untuk hipertensi dan perdarahan setelah melahirkan (postpartum hemorage) dan bayi yang dilahirkan biasanya kecil (low birth weight) serta rentan terhadap gagal nafas juga infeksi.

Resiko kematian bayi bertambah jika jarak kehamilan terlalu berdekatan
(kurang dari 24 bulan)
Sumber : www.globalhealthlearning.org

Hal lain yang menurut saya tidak kalah pentingnya adalah, pemerintah harus menginvestasikan pada pendidikan kaum perempuan/ calon ibu.

Sama seperti visi RA Kartini, pahlawan kita dan tokoh panutan saya, bahwa jika wanita diberi pendidikan yang layak maka akan terlahir keturunan yang berkualitas, secara fisik, mental dan spiritual.

Kamis, Oktober 07, 2010

Kesehatan reproduksi dan seksual

Setelah sekian lama tidak posting karena berbagai kesibukan di dunia akademis maupun kegiatan sehari-hari, akhirnya saya kembali lagi dengan topik: 'Kesehatan reproduksi dan seksual'.

Banyak orang menganggap kesehatan alat reproduksi ya sama saja dengan kesehatan secara fungsi seksual. Bisa dibilang mirip sih tapi sesungguhnya berbeda.

Owya, untuk liat tulisan tentang kenapa saya tertarik dengan topik ini, bisa dilihat di blog saya satu lagi di wordpress : klinikgratis.wordpress.com

Sedikit sekali praktisi kesehatan selain dokter spesialis obsgyn/ kulit kelamin yang memberi perhatian di bidang ini. Contoh praktisi kesehatan yang terkenal misalnya dr. Boyke, aktif di media memberikan ceramah tentang seksualitas.

Kesehatan reproduksi biasanya berhubungan dengan alat reproduksi dan fungsinya, yaitu seperti yang telah kita ketahui : untuk memberikan keturunan.
Banyak pasangan yang ingin mempunyai anak, atau tidak ingin mempunyai anak lagi akan memberi perhatian lebih pada alat reproduksinya.

Kesehatan alat reproduksi juga berkaitan dengan fungsi seksual.
Untuk kesehatan seksual, cakupannya lebih luas, bukan hanya usia yang matang untuk berkeluarga saja yang membutuhkan informasi ini, tapi juga anak-anak muda.

Anak yang masih kecil pun harus diberi pengetahuan tentang alat reproduksinya, dan mereka pun mempunyai kebutuhan 'seksual' walaupun berbeda dengan kebutuhan seksual orang yang sudah dewasa dan siap menikah.

Sebagai contoh, anak yang masih kecil mempunyai kebutuhan untuk disayang dan dibelai sebagai kebutuhan fisik. Dan biasanya ini didapatkan dari orang terdekat seperti ayah dan ibu, mungkin nenek dan kakek-nya.
Mereka juga harus diberi pengertian agar 'tidak boleh ada orang yang tidak dikenal menyentuh bagian intim kamu'.
Dan juga dijelaskan apa itu 'bagian intim' dan bagaimana cara menjaga-nya.
Ini untuk menghindarkan anak kecil dari pelecehan secara seksual dari orang dewasa.

Biasanya orang dewasa yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak kecil bisa jadi orang yang dikenalnya, seperti misalnya tetangga, teman dari keluarga.
Oleh karena itu anak sejak kecil harus diberi pengertian, siapa saja yang boleh memeluk kamu, siapa yang boleh mencium, dst.

Kebutuhan seksual anak remaja atau 'abege' juga berbeda dengan anak kecil dan orang dewasa.
Saat ini mereka sudah punya ketertarikan terhadap lawan jenis, muncul rasa ingin tahu dan 'mencoba sesuatu'.
Mereka juga harus diberi pengetahuan bagaimana menyalurkan 'ketertarikan' dan 'rasa penasaran' dengan cara yang sehat.
Mereka harus dibekali bagaimana bergaul secara sehat dengan lawan jenis, tapi juga tetap menikmati kesibukan masa mudanya.

Di banyak negara maju, anak remaja usia SMP sudah banyak diperkenalkan dengan alat kontrasepsi seperti kondom atau pil KB.
Ini untuk menghindari kejadian 'kecelakaan' atau kasus hamil pada remaja di luar nikah.

Remaja yang mengalami kehamilan di luar nikah tentu akan kehilangan masa sekolahnya karena harus sibuk menjaga anak, sementara mental mereka sendiri belum matang untuk mengurus anak.
Remaja wanita yang terlalu muda juga fungsi alat reproduksinya (rahim atau vagina) belum matang, sehingga dapat mengalami komplikasi saat melahirkan, juga rentan untuk terkena infeksi kelamin atau kanker leher rahim.

Remaja juga berhak mendapatkan informasi tentang kesehatan alat reproduksi dan seksual, agar mereka tahu bagaimana cara menghindari hal-hal yang bisa merugikan masa depan mereka.

Di Indonesia, situasinya memang berbeda dengan negara maju, kita tidak bisa membekali remaja disini dengan kondom atau pil KB untuk mencegah mereka mengalami kehamilan terlalu muda.
Tapi kita bisa membekali mereka dengan informasi yang dibutuhkan.

Nantikan ya postingan berikutnya, tentang topik ini.

Jumat, Agustus 29, 2008

Organ kewanitaan kesat=enak ?

Kalau kita meneliti, betapa banyaknya iklan di media (televisi, koran/ media cetak, internet, dsb) yang mempromosikan obat/ramuan/jamu untuk membuat organ kewanitaan/ vagina menjadi kesat sehingga disayang suami (?????) Ini adalah persepsi yang sama sekali salah di masyarakat kita, bahwa vagina yang kesat menyebabkan hubungan seksual yang lebih enak.
Anggapan seperti ini jelas tidak berlaku untuk pihak wanita, karena untuk wanita lebih nyaman jika vaginanya basah saat berhubungan seks, karena jika vagina kering atau kesat menandakan pemanasan/foreplay tidak cukup sehingga pihak wanita tidak cukup terangsang/belum siap untuk melakukan hubungan seksual.

Tapi sayangnya, entah karena sejak kecil kita sudah di-indoktrinasi oleh budaya dan media bahwa vagina kesat/kering itu sesuatu yang baik (apalagi jika ingin disayang suami ???) banyak wanita mengkonsumsi/ menggunakan produk yang bisa mengeringkan/ mengurangi produksi lendir vagina. Ramuan tradisional/ jamu-jamuan seperti ini tidak bisa dibilang aman.
Bahkan ada efek samping yang berbahaya jika terus menerus mengkonsumsi ramuan ysb selama puluhan tahun. Salah jika ada ramuan/ jamu yang mengklaim menggunakan bahan dasar alami sehingga tidak ada efek samping yang membahayakan tubuh.
Banyaknya kasus tentang ramuan/jamu yang dicampur dengan obat atau malah zat yang berbahaya jika dikonsumsi seharusnya membuat kita lebih hati-hati dengan penggunaan ramuan tradisional semacam ini.

Normalnya organ kewanitaan kita memang dirancang untuk berlendir atau basah pada saat-saat tertentu.
Wanita umumnya cenderung merasa lebih "basah" saat masa subur. Keadaan seperti ini sangat wajar dan tidak perlu pemakaian sabun sirih untuk mencuci vagina, karena setelah lewat masa subur (1-2 hari) lendir tersebut akan berkurang. Pemakaian sabun pencuci vagina yang terlalu sering malah dapat menyebabkan keputihan pada wanita, karena normalnya vagina mempunyai sistem pertahanan tersendiri yang mencegah infeksi masuk ke organ kewanitaan. Pada pemakaian sabun pencuci vagina, sistem pertahanan tersebut terganggu sehingga membuat vagina lebih rentan untuk terkena infeksi dan menyebabkan keputihan.
Keadaan terangsang atau saat hubungan seksual juga normalnya membuat vagina lebih basah karena mengeluarkan lendir. Mekanisme seperti ini memang sudah diatur oleh Yang Mahakuasa, agar saat penis memasuki vagina (yang sudah basah) saat hubungan seksual tidak menyebabkan perlukaan saat bergesekan. Gesekan saat hubungan seksual menimbulkan mikrolesi (=perlukaan kecil) hal ini sangat berbahaya jika salahsatu pasangan mempunyai penyakit kelamin atau penyakit yang ditularkan melalui darah seperti Hepatitis B dan C , juga virus imunodefisiensi pada manusia /HIV.
Disinilah pentingnya memakai pengamanan (=kondom) setiap kali melakukan hubungan seksual bukan dengan pasangan tetap kita.
Sosialisasi pemakaian kondom belum diterima sebagai sesuatu yang wajar, stigma kondom masih stigma negatif di masyarakat kita.
Akibatnya banyak kasus istri tertular penyakit dari suaminya yang suka "jajan".

Dari kasus HIV positif sendiri, sudah jelas sekali orang terinfeksi HIV tidak bisa disembuhkan seperti penyakit menular seksual lain yang bisa sembuh/hilang setelah minum obat.
Sekali orang terinfeksi HIV maka seumur hidupnya orang tersebut akan mempunyai antibodi positif terhadap HIV. [ Disebut seropositif ]
Hal semacam ini seharusnya diketahui secara luas, agar perubahan perilaku bisa diterapkan di kalangan masyarakat. Jika ingin melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang tidak kita ketahui benar latar belakangnya/ bahkan kelompok resiko tinggi seperti pekerja seksual, homoseksual/ waria, hendaknya pemakaian kondom merupakan sesuatu yang wajib.
Mitos seperti minum antibiotik sebelum hubungan seksual dapat menghindari penularan penyakit menular seksual dan HIV adalah sesuatu yang SALAH.
Sejauh ini metoda yang paling bisa diandalkan hanyalah KONDOM.
Walaupun masih banyak perdebatan bahwa efektifitas kondom belum 100 % mencegah penularan (apalagi jika kondom yang dipakai kualitasnya jelek sehingga mudah robek), tapi belum ditemukan metoda lain yang sebaik kondom.

Balik lagi ke soal vagina yang kesat lebih enak, mitos seperti ini perlu dimusnahkan seperti layaknya korupsi di pemerintahan. Sudah jelas anggapan seperti ini merugikan kaum wanita.
Dan sebagai wanita, jangan mau jadi korban media atau korban produk yang (katanya) mengatasnamakan wanita tapi sebenarnya merugikan.
Secara keseluruhan, tubuh kita sudah dirancang sedemikian sempurna oleh Yang Diatas, sehingga apa yang normal, sudah tidak seharusnya dimodifikasi lagi oleh pemakaian ramuan/jamu-jamuan untuk mengubah keadaan fisiologis tersebut.
Sebaliknya, hal tersebut malah bisa mendatangkan kerugian, atau yang paling buruknya penyakit pada tubuh kita.

Semoga tulisan ini bisa memberikan pencerahan.

Kamis, Mei 29, 2008

Menghitung masa subur

Masa subur pada wanita penting diketahui untuk kamu yang sedang berusaha untuk punya bayi atau kamu yang menjalankan metoda KB dengan sistem penanggalan.
Karena lamanya siklus menstruasi tiap wanita berbeda, kamu perlu mencatat selama beberapa bulan kapan tanggal kamu mulai menstruasi tiap bulannya.
Hari pertama menstruasi (H+1) menandakan siklus menstruasi kamu saat sebagian dinding rahim luruh dan keluar sebagai darah mens.

Umumnya lama siklus menstruasi berkisar antara 25-35 hari, jadi ada juga yang dalam sebulan bisa dapet mens 2 kali. Kan sebulan ada 30-31 hari.
Kapan masa subur kamu?
Umumnya masa subur tiap wanita terjadi 14 hari sebelum mens yang akan datang.

Contohnya siklus mens kamu setiap 30 hari.
Jadi kamu mendapat mens pada tanggal 1 April, bulan berikutnya mens kamu datang tanggal 1 Mei. (dari 1 April ke 1 Mei = 30 hari)

So... perkiraan masa subur kamu adalah sekitar tanggal 1 Mei dikurangi 14 hari = 16 April.

Gimana kalo siklus mens kamu berubah-ubah, kadang dapetnya tiap 28 hari sekali, atau bulan depan jadi 30 hari?
Nah itulah... makanya tadi dibilang penting untuk mencatat di kalendar kapan tiap bulan kapan kamu dapet mens.
Kalo siklus mens kamu tidak menentu ya paling bisa dibikin perkiraan sekitar tanggal kapan masa subur kamu.

Masa subur itu maksudnya apa sih?
Masa subur atau istilah medisnya ovulasi, adalah waktu dimana sel telur kamu dikeluarkan dari tempatnya (indung telur=ovarium) , trus dari situ dia masuk ke saluran telur menuju rahim (=uterus).

Kalo kamu pengen dan sedang berusaha punya bayi, saat itulah dia nunggu sperma yang masuk untuk dibuahi.
Tapi kalo kamu sedang menjalankan metoda KB, saat masa subur itulah kamu mesti hati-hati supaya jangan ada sperma yang masuk (pake kondom kalau pria, atau pake diafragma untuk perempuan).
Biasanya saat masa subur ini juga lendir yang dihasilkan vagina lebih banyak dan encer. Kalo cewe pasti kerasanya lebih 'basah'.
Juga bisa diketahui kalo kamu melakukan pengukuran suhu tubuh setiap hari selama sebulan (tiap bangun tidur), nah saat ovulasi terjadi biasanya suhu tubuh lebih meningkat (sedikit) dari sebelum terjadi ovulasi.

Berapa lama masa subur ini berpotensi untuk terjadi bayi ?
Gak lama, cuman sekitar beberapa jam aja dari ovulasi.
Jadi setelah 24 jam ovulasi gak ada sperma yang membuahi ya dia bakalan 'expired'. Yang artinya kalo ada sperma yang masuk setelah lewat 24 jam masa ovulasi terjadi, kemungkinan besar tidak akan dibuahi jadi bayi entarnya.

Tapi perlu kamu ketahui, bahwa sperma itu bisa tahan 3-5 hari di rahim (betah kali ye?!) bahkan menurut literatur ada yang bisa sampai satu minggu.
Yang artinya kalo kamu melakukan hubungan sex tanpa kondom 3 hari sebelum terjadi masa subur masih bisa berpotensi untuk hamil.

Rabu, Mei 07, 2008

Menentukan jenis kelamin janin

Karena jaman sekarang banyak orangtua yang membatasi jumlah anaknya, banyak pasangan yang menanyakan bagaimana caranya (tips dan trik) supaya bisa mempunyai anak dengan jenis kelamin yang diinginkan.
Apakah dengan diet / makan makanan tertentu bisa mempengaruhi jenis kelamin bayi yang dikandung ?
Perlu diketahui sebelumnya, jenis kelamin janin ditentukan oleh sperma sang ayah.
Ada dua macam sperma yang dihasilkan pria, sperma X dan sperma Y.

Sedangkan sel telur / ovum milik ibu kodenya selalu X.
Jika sperma X ayah bertemu dengan sel telur ibu hasilnya akan = XX (anak perempuan)
Sebaliknya jika sperma Y yang bertemu sel telur ibu hasilnya = XY (anak lelaki).
Sifat sperma Y gerakannya lebih aktif, tapi hanya bertahan sebentar dalam saluran kelamin wanita, sebaliknya sperma X gerakannya lebih pelan, tapi bertahan lebih lama dalam saluran kelamin wanita.

Apakah makanan tertentu mempengaruhi produksi sperma X dan Y tersebut ?
Belum ada penelitian yang mendukung teori ini. Tetapi ada teori yang mengatakan makanan yang dimakan sang ibu bisa mempengaruhi suasana saluran kelamin agar jenis sperma tertentu bisa bertahan.
Seperti kita ketahui makanan ada yang bersifat Asam dan Basa.
Makanan sifat Asam misalnya protein tinggi seperti daging, ikan, dan sebagainya, sedangkan makanan yang bersifat Basa misalnya sayuran dan buah.


Jika ingin mempunyai anak Lelaki mungkin bisa dicoba kombinasi berikut :
1. Si Ibu dianjurkan diet yang mengandung banyak protein -terutama menjelang masa subur atau ovulasi -
2. Cobalah menghitung waktu perkiraan ovulasi setepat mungkin, dan lakukan hubungan badan dengan pasangan saat masa subur/ waktu ovulasi.

Jika ingin mempunyai anak Perempuan, cara yang bisa dicoba :
1. Ibu mengkonsumsi banyak sayur dan buah, terutama menjelang masa subur.
Lebih bagus jika dibiasakan beberapa bulan sebelumnya.
2. Perkirakan waktu ovulasi, hubungan badan dilakukan 1-2 hari sebelum waktu ovulasi berlangsung.

Manusia boleh berusaha, tapi Tuhan yang menentukan, jangan lupa minta sama Yang Diatas juga.... Pastinya Lelaki atau Perempuan yang penting kan sehat.
Selamat mencoba !


Selasa, Februari 19, 2008

Ejakulasi dini pada pria lajang

Wajarkan pada seorang pria muda, yang belum menikah, cepat "keluar" saat berhubungan seks untuk pertama kalinya ?

Rangsangan seksual pada seorang pria yang masih muda, wajar jika dipersepsi "berlebihan" sehingga umumnya pria tersebut tidak dapat mengontrol pengeluaran mani / ejakulasi dalam waktu singkat.
Rangsangan seksual sendiri sifatnya sangat subjektif, mulai dari melihat gambar/film porno, dielus-elus, atau bahkan sentuhan pada alat kelamin / penis.
Jika seorang pria sudah menikah, atau terbiasa melakukan hubungan seks dengan pasangan tetapnya, umumnya lebih terlatih untuk mengendalikan pikiran yang ditimbulkan oleh rangsangan seksual tersebut,

sehingga lama kelamaan (diharapkan) tidak terlalu cepat ejakulasi.
Posisi berhubungan seks wanita diatas pria juga sangat dianjurkan bagi laki-laki yang cenderung cepat ejakulasi, dan diperlukan kerjasama dengan pasangannya untuk segera menghentikan rangsangan bila rasanya si pria sudah ingin 'keluar'.

Onani / masturbasi pada pria muda yang belum menikah wajar dilakukan.
Bila frekuensinya berlebihan hingga mengganggu aktivitas sebaiknya coba alihkan ke aktivitas fisik yang menguras tenaga seperti olahraga sepak bola (atau angkat besi/ tabung elpiji mungkin ?)
Jika onani terasa sangat melelahkan coba lakukan di malam hari agar tidak mengganggu aktivitas sepanjang hari, dan sebaiknya imbangi dengan makan makanan yang berprotein tinggi agar tidak loyo sesudahnya.